Selasa, 23 Oktober 2018
JAJAK PENDAPAT
Siapakah kader PDI Perjuangan yang pantas jadi bakal calon di Pilgub Jabar 2018?
   
Aang Hamid Suganda
Abdy Yuhana
Ono Surono ST
Rieke Diah Pitaloka
Sutrisno
TB Hasanudin
.:: Lihat Hasil ::.

BERITA TERBARU
Besarnya Perhatian Pada Nelayan, Bawa Ono Surono Sukses di Senayan
Last Update 20 Februari 2018
Ono Surono Sosialisasikan UU Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan
Last Update 28 Februari 2018
Gaduh Luhut-Susi, Ono Surono: Menenggelamkan Kapal Itu Harus Ada
Last Update 12 Januari 2018
Ono Surono Gelar Pengobatan Gratis
Last Update 14 Agustus 2017
Ono Surono Ikuti Panen Perdana Budidaya Lele Bioflok di Pondok Pesantren
Last Update 27 Desember 2017
Poktan Penerima UPPO Diminta Fokus Produksi Pupuk Organik
Last Update 25 Desember 2017
Ono Surono Adakan Kunjungan Kerja di Pemdes Gadel
Last Update 21 Juni 2017
Soal Status, Para POPT & PPL Indramayu Gantungkan Nasib ke DPR
Last Update 29 Mei 2017
Home » Press Release » Detail
66 Nelayan Rembang Ditahan Tanpa Alasan Jelas, SBY-Boediono Bertindaklah Baik di Akhir Jabatannya

Post By : Administrator
Last Update : 27 Mei 2014, 09:36

Sejak Sabtu (24/5), 66 nelayan asal Rembang & Juwana ditahan Polair Kota Baru, Kalimantan Timur tanpa alasan hukum yang jelas. Untuk melepaskannya, setiap kapal dimintai uang tebusan Rp 50juta.

Pemerasan seperti ini bukan pertama kali dialami nelayan Indonesia. Kami minta Pak Menteri melindungi dan membebaskan nelayan dari kekerasan semacam ini.

"Nelayan asing bebas mencuri ikan, Nelayan RI kok ditangkapi?".         

Berita di atas dikirim dari Kawan Budi Laksana, Ketua Presidium Serikat Nelayan Indonesia (SNI) yang kembali buat PERIH pikiran dan batin ini.

Selama ini pembangunan di bidang Kelautan dan Perikanan berorientasi pada Penegakan Hukum kepada nelayan-nelayan tradisional.

Padahal bagi mereka yang mayoritas nelayan tradisional dengan sistem andon, mencari ikan di laut baru sebatas bertujuan menyambung hidup keluarganya, bukan untuk mengeruk kekayaan, dengan alat tangkap yang dimodifikasi sendiri yang izinnya tidak dikeluarkan oleh KKP maka memaksa mereka untuk mencari ikan di wilayah lain. Sehingga tidak jarang mereka menabrak aturan perundang-undangan.

Pada sisi penegakan hukum, KKP sebagai Bapak Nelayan sangat sangat sangat berkonsentrasi bicara dan bertindak Penegakan Hukum kepada nelayan yang dianggap melakukan IUU (Illegal, Unregulated, Unreported) Fishing tanpa mereka berfikir 25 persen penduduk miskin di Indonesia adalah nelayan.

Apakah pemerintah juga, sodorkan teknologi tangkap yang murah, ramah lingkungan sekaligus dapat tingkatkan produksi? TIDAK!!! Jawabannya.

Pada Peraturan Menteri KKP yang mengatur Alat Tangkap, jenis-jenis alat tangkap yang diatur, tidak sedikit merupakan hasil kreasi nelayan tradisional Indonesia, walaupun banyak juga hasil kreasi itu baru sebatas murah dan meningkatkan produksi.

INPRES 15/2011 tentang Perlindungan Nelayan pun sekarang hanya menjadi Pajangan bagi Pemerintah untuk dijadikan bukti bahwa mereka concern MEMBELA NELAYAN. Sebuah Paradoks sedang dipertontonkan, 1 Nelayan Subang di penjara 6 bulan karena tidak punya surat2 kapal.

Enam kapal asal Brebes di Lampung telah disita negara melalui vonis pengadilan karena tidak punya izin andon, 1 kapal asal Tegal ditangkap di Semarang karena indikasi ukuran kapal yang tidak sesuai dengan Surat Ukurnya padahal yang keluarkan kantor Syahbandar...

Nah... sekarang ini adanya kasus di Kota Baru yang tentu membuat kita prihatin... Negara malah berupaya menambah kemiskinan pada nelayan tradisional Indonesia. Negara malah beri izin dan pintu masuk bagi 1000 kapal nelayan asal Cina untuk beroperasi di Wilayah penangkapan ikan Indonesia dan ZEEI...

Untuk itu, mohon kepada Pemerintah SBY-Budiono diakhir masa Jabatannya untuk sedikit saja menoleh kepada nelayan asal Rembang/Juwana yang ditangkap Polair di kota baru Kalimantan Timur dengan menggunakan INPRES 15/2011 tentang Perlindungan Nelayan. Bebaskan mereka demi Bangsa Indonesia..!

Terima Kasih.

Ono Surono, Ketua Front Nelayan Bersatu (FNB)

Copyright OnoSurono.Com © 2018. All Right Reserved
Design By C.M.C (Cuplik Media Center)