Rabu, 15 Agustus 2018
SUB BERITA
» PERIKANAN
» PERTANIAN
» POLITIK DAN HUKUM
» RAGAM
JAJAK PENDAPAT
Siapakah kader PDI Perjuangan yang pantas jadi bakal calon di Pilgub Jabar 2018?
   
Aang Hamid Suganda
Abdy Yuhana
Ono Surono ST
Rieke Diah Pitaloka
Sutrisno
TB Hasanudin
.:: Lihat Hasil ::.

BERITA TERBARU
Besarnya Perhatian Pada Nelayan, Bawa Ono Surono Sukses di Senayan
Last Update 20 Februari 2018
Ono Surono Sosialisasikan UU Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan
Last Update 28 Februari 2018
Gaduh Luhut-Susi, Ono Surono: Menenggelamkan Kapal Itu Harus Ada
Last Update 12 Januari 2018
Ono Surono Gelar Pengobatan Gratis
Last Update 14 Agustus 2017
Ono Surono Ikuti Panen Perdana Budidaya Lele Bioflok di Pondok Pesantren
Last Update 27 Desember 2017
Poktan Penerima UPPO Diminta Fokus Produksi Pupuk Organik
Last Update 25 Desember 2017
Ono Surono Adakan Kunjungan Kerja di Pemdes Gadel
Last Update 21 Juni 2017
Soal Status, Para POPT & PPL Indramayu Gantungkan Nasib ke DPR
Last Update 29 Mei 2017
Home » Berita » PERIKANAN » Detail
Besarnya Perhatian Pada Nelayan, Bawa Ono Surono Sukses di Senayan

Post By : Administrator
Last Update : 20 Februari 2018, 16:06

JAKARTA - Kerja keras tak pernah mendustakan hasil. Jargon yang pas untuk menggambarkan sosok Ono Surono. Berkat perhatian besarnya yang ia berikan untuk para nelayan, kini ia melenggang ke Senayan.

Bukan tanpa rintangan Politisi PDI-P ini meraih kesuksesannya. Sejak kecil, Ono tumbuh besar di lingkungan para nelayan, di Desa Paoman, Indramayu, Jawa Barat. Paoman merupakan salah satu kawasan sentral nelayan di Indramayu.

Ono sendiri, tepatnya kita semua beranggapan, kesejahteraan nelayan di Indonesia masih lah sangat kurang. Nelayan di Indonesia banyak yang memiliki kehidupan jauh dari kata layak. Berangkat dari hal tersebut, Ono bercita-cita merubah stigma yang sudah melekat itu.

Setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 1996, Ono beruntung bisa melanjutkan pendidikannya di Universitas Trisakti, Jakarta, dengan mengambil jurusan arsitektur.
Tiga tahun dilaluinya hingga ia memutuskan untuk mengambil cuti. Bukan tanpa alasan, ia mencoba merintis usaha ikan kecil-kecilan dan terus berkembang hingga mempunyai perahu sendiri.

Saat terjadi krisis di tahun 1998 dengan dilengserkannya Presiden Indonesia ke-2, saat itulah ketertarikannya dengan dunia politik bermulai. Ono pun bergabung PDI-Perjuangan pada tahun yang sama.

Dalam perjalanan karir politiknya, Ono menjadi pengurus partai di tingkat Kecamatan. Lalu tahun 2000 naik menjadi pengurus tingkat Kabupaten/Kota. Hingga pada tahun 2004 Ono memberanikan diri untuk maju pada Pileg Tingkat II Kabupaten Indramayu. Dan kerja kerasnya tak sia-sia, ia berhasil terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Indramayu.

Selama menjadi anggota DPRD Indramayu, Ono semakin sadar, bahwa nasib para nelayan, khususnya di kawasan Indramayu selama itu belum tersentuh oleh program-program pemerintah.
Hingga menurut Ono, indeks pembangunan manusia pada kelompok masyarakat pesisir jadi yang terendah di seluruh daerah di Nusantara.

"Karena memang program-program yang dikucurkan kepada mereka (nelayan) sangatlah minim. Bila dibandingkan dengan usahanya para petani, petani lebih banyak mendapat perhatian saat itu," ungkapnya saat berbincang dengan Kabar3.com di kantornya, Gedung DPR RI, Jakarta.

Seiring berjalannya waktu, di tahun 2008, Ono yang selalu memberi perhatian kepada nelayan akhirnya dipercaya menjadi Ketua Koperasi Perikanan Laut Mina Sumitra Indramayu.
Saat itu Ono memapu meningkatkan anggaran dana untuk para nelayan di Indramayu menjadi di atas Rp 100 miliar tiap tahunnya. Dan angka itu bertambah dari tahun ke tahun.

Walau saat itu sudah menjabat sebagai anggota DPRD Indramayu, Ono merasa masih mempunyai utang kepada keluarganya, yang sangat mengganjal di hati. Ono pun kembali melanjutkan pendidikannya yang sempat terhenti hingga akhirnya lulus di Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (STTC) pada tahun 2012.

Setelah lulus kuliah, Ono dipercaya menjadi Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Jawa Barat.

Berbekal segudang pengalaman berorganisasi dan politik, tahun 2014 Ono terpilih dan melenggang ke Senayan mewakili dapil Jawa Barat VIII.

Dan hingga saat ini Ono Surono menduduki posisi anggota Komisi IV DPR RI, yang membidangi pertanian, perkebunan kehutanan, kelautan, perikanan dan pangan. Suatu hal yang tak asing lagi bagi Ono Surono.

Selama tiga tahun berkiprah di Senayan, Ono melihat kondisi petani dan nelayan Indonesia sudah terus berkembang. Baik dari aspek anggaran maupun kesejahteraan, walau yang terakhir masih belum signifikan.

"Pada pemerintahan sebelumnya anggaran tak pernah lebih dari Rp 20 trilium, hanya Rp 15 triliun-Rp 17 triliun. Namun di era pemerintahan Joko Widodo anggaran mampu dinaikan hingga Rp 31 triliun. Sehingga implikasi dari hal tersebut adalah aspek pembiayaan program juga semakin bagus," terangnya.

Nelayan pun, lanjut Ono, turut merasakan hal positif ketika ia mulai berkiprah menjadi anggota dewan. Dirinya dan anggota lainnya mampu mendorong UU Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam. Hingga hal tersebut dapat direalisasikan menjadi UU No. 7 Tahun 2017.

"UU tersebut mengatur apa yang menjadi perlindungan, seperti salah satunya perlindungan usaha, sampai mengatur bagaimana pemerintah tidak bisa leluasa mempunyai kebijakan impor produk perikanan pada batasan-batasan yang diatur dalam UU," jelas Ono.

Adapun soal visi bangsa yang menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, Ono menganggap hal tersebut sebagai sebuah tantangan, agar bersama dengan pemerintah dapat merealisasikan hal tersebut.

Walau melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terdapat beberapa kebijakan yang dianggap merugikan rakyat, namun Ono tetap melihat sisi positif dari kebijakan tersebut. Karena bagi Ono sendiri, kebijakan dari KKP mempunyai implikasi pemerintah mampu menyelesaikan semua hal yang menyangkut persoalan legalitas.

"Dari dulu perizinan kepada kapal asing untuk memasuki perairan Indonesia sangat mudah. Kadang hanya satu perizinan tetapi yang masuk 10 kapal," ungkapnya.

Menurut Ono, saat ini Indonesia sudah memiliki sumber daya manusia yang mempu memetakan potensi kelautan dan hasil laut di perairan Indonesia. Dengan ini bangsa kita sudah dapat mengukur seberapa besar hasil yang bisa didapatkan dari hasil laut.

"Dari hal seperti ini Indonesia mempunyai gambaran luas harus (melakukan hal atau kebijakan) seperti apa. Sehingga poros maritim yang diinginkan pemerintah bisa secepatnya terwujud," pungkasnya

 

Sumber : Kabar3.com

Copyright OnoSurono.Com © 2018. All Right Reserved
Design By C.M.C (Cuplik Media Center)