Sabtu, 16 Desember 2017
SUB BERITA
» PERIKANAN
» PERTANIAN
» POLITIK DAN HUKUM
» RAGAM
JAJAK PENDAPAT
Siapakah kader PDI Perjuangan yang pantas jadi bakal calon di Pilgub Jabar 2018?
   
Aang Hamid Suganda
Abdy Yuhana
Ono Surono ST
Rieke Diah Pitaloka
Sutrisno
TB Hasanudin
.:: Lihat Hasil ::.

BERITA TERBARU
Ono Surono Adakan Kunjungan Kerja di Pemdes Gadel
Last Update 21 Juni 2017
Soal Status, Para POPT & PPL Indramayu Gantungkan Nasib ke DPR
Last Update 29 Mei 2017
Ancaman Kekeringan, Komisi IV DPR Sidak Sungai Hingga ke Rentang
Last Update 29 Mei 2017
OS: Banyak Lahan Pertanian di Indramayu Belum Dikelola
Last Update 7 Mei 2017
Ono Surono, Nelayan Harus Berdikari
Last Update 7 Mei 2017
Ketua MPN, Ono Surono: Soal Cantrang, Presiden Harus Perintahkan Kementerian Lain!
Last Update 10 Mei 2017
Akhirnya Cantrang atau Dogol Diberlakukan untuk Semua Daerah
Last Update 4 Mei 2017
Solusi Cantrang, Pemerintah Tunda Pelaksanaan untuk Semua Daerah
Last Update 4 Mei 2017
Home » Berita » PERIKANAN » Detail
Nelayan Indramayu Keluhkan Pelarangan Dogol Saat Melaut

Post By : Administrator
Last Update : 17 April 2017, 12:02

Indramayu - Ratusan nelayan dan istri nelayan hadiri kegiatan Rapat Dengar Pendapat (RDP) 4 Pilar Kebangsaan yang digelar oleh anggota DPR RI Komisi IV Fraksi PDI Perjuangan, Ono Surono ST, di Kampung Nelayan blok Glayem Kecamatan Juntinyuat Kabupaten Indramayu, Senin (17/04).

Nelayan asal Juntikedokan blok Carik, Tamirih, menyampaikan aspirasi pada acara RDP tersebut, terkait penggunaan dogol agar tidak dilarang.

Senada, hal tersebut juga dikeluhkan Wanto, nelayan setempat, jika penggunaan dogol yang dilarang akan mengganggu perekonomian nelayan kecil.

“Ya kalau pakai dogol, katanya nanti dioperasi, ditangkap, dipenjara, ya kalau nelayan harian yang menggantungkan kebutuhan sehari-hari di laut, jadi takut untuk bekerja di laut karena masih menggunakan dogol,” jelasnya.

Jika dogol dilarang, lanjut Wanto, maka nelayan tidak akan melaut lagi, karena dari dulu nelayan tradisional menggunakan dogol. Sedangkan kebutuhan hidup sehari-hari harus selalu dipenuhi.

“Ya bingung, kalau tidak melaut cari ikan, mau kerja dimana lagi, sedangkan nelayan yang pakai dogol itu dilarang,” Keluhnya.

Warga lainnya, Dasikin (45), nelayan asal Glayem Juntinyuat menuturkan, jika dogol tetap dilarang, nelayan ingin ganti rugi jaring teri atau Kursin waring.

“Bagi nelayan harian yang berangkat pagi pulang sore, alat jaring tidak terlalu diperlukan, jika kursin waring kan bisa untuk harian,” tandasnya.

Sementara, dalam menanggapai aspirasi nelayan tersebut, Ono Surono ST mengaku sudah menampung semua aspirasi di setiap daerah, dengan permasalahan yang sama, bahwa nelayan tidak siap jika penggunaan dogol dilarang.

“Bantuan 11 pcs dengan panjang 500 meter, sementara nelayan membutuhkan 2500 meter dan perlu 35pcs per kapal. Harus ada tambahan lagi, sementara nelayan tradisional hanya mengandalkan dari hasil harian untuk kebutuhan sehari-hari, tidak bisa membeli alat yang masih kurang itu,” jelasnya.

Dikatakannya, aspirasi nelayan tentang penggunaan dogol yang dilarang tersebut akan disampaikan kepada kepala kantor staf presiden dan akan langsung ke presiden. (Didi)

 

Sumber : Cirebontrust.com

Copyright OnoSurono.Com © 2017. All Right Reserved
Design By C.M.C (Cuplik Media Center)